
Public Space
May 29, 2008Kemarin, harusnya menjadi hari yang indah buat saya. Akhirnya, setelah beberapa bulan saya tidak bertemu dengan pacar saya, saya bisa ketemu dengan dia. Wuihh… senangnya …. Ya, iyalah sudah dua bulan kita engga bertemu. Sejak saya cuti itu loh. Namun, keindahan itu harus terusik dengan ketidaknyamanan ketika saya pulang.
Ketika jam 17.00 WIB, mobile phone saya berbunyi. Ternyata dari Mama.
“Bert, kamu udah pesan travel, belum?”
Mama menanyakan perihal kepulangan saya dari Medan ke Siantar. Perjalanan pulang dari Medan ke Siantar memakan waktu kira-kira tiga jam. Plus antar jemput penumpang yang lain, jadilah sekitar tiga setengah jam.
“Belum, Ma. Kalau Asin pasti paling telat jam enam, Ma. Nanti Albert pesan yang Paradep aja.”
Paradep dan Asin merupakan sejenis travel untuk Medan Siantar. Yah, sejenis travel seperti CityTrans atau Cipaganti. Bedanya mungkin Paradep lebih kelihatan formal dan Asin lebih kelihatan informal travel car.
“Oh! Yah sudah. Mama mau tidur dulu. Mau mastiin aja kamu dah dapat travel.”
Akhirnya saya memesan Paradep untuk jam tujuh malam. Karena saya baru saja selesai makan sekitar jam enam malam di Fountain di Sun Plaza Medan. Jadi, masih ada sekitar waktu satu jam untuk makan dan berpacaran, bercumbu, bercinta. He he he.
Saya sampai di travel pukul tujuh lewat sepuluh menit. Saya duduk di paling belakang, pojok kanan. Sudut mati. Dead end. Saya membuka ipod saya dan mulai memutar lagu Always Be My Baby nya David Cook. Lagu yang memutar lagi kenangan saya dengan pacar tadi siang.
Tak disangka, ternyata sebelah saya adalah bapak-bapak berbadan besar. Akhirnya, saya harus lebih merelakan porsi duduk saya untuk si bapak. Belum lagi bau keringat dia yang sangat menyengat yang membuat hidung saya ngos-ngosan untuk mencium bau seperti telor busuk (maaf, pak! emang kenyataan.) bercampur dengan tengik. Beuuhhh!
Si bapak akhirnya mengeluarkan sesuatu yang sangat saya tidak duga. Rokok. Dia mulai memantik mancisnya dan membakar ujung dari rokoknya. Asap rokok pun perlahan muncul dari ujung rokoknya yang membentuk huruf ‘S’. Bayangkan, ditambah dengan bauk telor busuk plus tengik, Anda pasti akan langsung merasa sangat tidak nyaman berada disamping Bapak itu.
Di luar dugaan saya, ternyata bapak disebelahnya juga memantik rokok. Akhirnya bercampurlah asap-asap rokok dalam mobil. Kebetulan saya merupakan orang yang sangat sensitif dengan bau rokok. Setelah mencium asap rokok, pasti hidung saya tersumbat. Saya sangat merasa sangat tersiksa ketika itu.
Cause you always be my baby.
Lagu yang terputar di ipod saya tak cocok dengan suasana di mobil. Samar-samar saya malah mendengar David Cook menjadi seorang penyanyi dengan logat Indonesia.
Kas yu olweis bi mai babi.
Lagi-lagi supirnya juga menyalakan rokok. Dengan rokok tertancap di mulut dengan gigi kuningnya, dia membawa mobil dengan gila. Mendahului lewat jalur kiri. Astaga. Waktu pukul setengah delapan malam. Langsung terbersit dalam pikiran saya apabila mobil ini mengalami kecelakaan.
Eh, gw blom kawin bo. Jangan mati dulu.
Muka saya sangat masam waktu itu. Bapak-bapak sekalian tidak memikirkan di barisan depan terdapat seorang ibu dan bayi.Penelitian yang dipublikasikan di kompas.com mengatakan bahwa pengaruh asap rokok terhadap anak-anak sangat buruk. Setengah dari anak-anak menjadi pelanggan rumah sakit karena asap rokok.
Asap dari rokok berterbangan seiisi mobil. Saya pun akhirnya terbatuk-batuk.
Ohok! Ohok!
Sekali-dua kali tak di gubris.
Ohok! Ohok!
Lagi-lagi tak digubris.
Ohok! Ohok!
Saya sengaja tidak melihat mereka. Muak dengan orang yang tidak memperdulikan kesehatan orang sekitar. Mereka merupakan orang-orang yang egois. Mereka hanya peduli dengan kesenangan sendiri tanpa melihat orang disekitar menjadi terancam karena kesenangan dia. Siapapun di dunia ini tak pernah membenarkan kesenangan seseorang yang merugikan orang banyak.
Akhirnya, asap rokok tak muncul lagi. Mereka berdua tertidur. Syukurlah. Tapi, saya lagi-lagi harus menderita. Si bapak disebelah saya dengan bau tadi, ternyata tidur dengan meletakkan kedua palm nya di belakang kepala. Akhirnya, ketiak yang basah – bahkan dia sudah memakai singlet- memunculkan bau yang sangat tidak enak buat saya.
Beri cinta waktu. Kau menjauh, menangis hatiku.
Lagi-lagi lagunya Maliq and d’Essential tidak cocok dengan suasana. Alunan lagu-lagu jazz dengan live instrument tersebut sangat tidak pas. Saya harus menahan bau tersebut hingga pulang ke siantar.
Saya sangat menyayangkan masyarakat yang tidak mengerti etika di tempat umum. Mobil itu didalam nya terdiri atas sejumlah penumpang. Mobil tersebut menjadi ruang publik. Ruang dimana berkumpulnya beragam manusia. Segala sesuatu yang akan kita lakukan di ruang publik harus mendapat consideration apakah hal tersebut akan mengganggu publik. Bapak diatas adalah contoh yang tidak mengerti mengenai etika di ruang publik.
Saya yakin, pada saat itu bukan hanya saya yang merasa terganggu. Ibu didepan juga pasti akan merasa geram dengan sikap bapak-bapak di belakang yang egois tersebut.
Beruntunglah sekarang di DPR akan membahas mengenai UU anti rokok. Semoga apa yang dibahas oleh bapak-bapak di Senayan mencakup pelarangan merokok di ruang publik.
Eww.
Makanya naik Citi Trans, satu orang dapet satu kursi… Haha ga simpatik bgt. :p
Yah begitulah sebagian orang Indonesia, belum peka sama lingkungan sekitar. Masih sering ga sih ngeliat kantong plastik, gelas air mineral, atau bungkus makanan dilempar keluar jendela mobil ke jalanan?
Yang penting sih jangan sampe kita kebawa sama kebiasaan yg nggak oke kyk gitu… Ya mulai dari diri sendiri, contohin ke yg lain sambil sedikit-sedikit ‘nyepet’. Hehehe…
Ngomong-ngomong, saya juga pernah ngalamin, tapi di angkot. Dan saya juga sengaja batuk-batuk DAN ditambah tatapan sadis siap membunuh kalau rokok itu nggak dia matikan.
And it worked.