h1

Currently me

May 21, 2008

Wah… banyak teman saya yang menanyakan keberadaan saya sekarang ini. Yah, memang saya sudah lama tak datang ke kampus. Saya sekarang sedang menjalani masa cuti kesehatan (ternyata gampang kok minta surat cuti di kampus he he he). Ada alasan kenapa saya cuti. Baiklah, semoga pengalaman saya ini berguna buat teman-teman. 

Bulan dua kemaren, saya merasa bahwa kondisi tubuh saya sangat lemah. Baca tak konsen, dengar mengantuk, simak tak masuk otak, badan lemas terus. Akhirnya saya berobat ke Rumah Sakit Borromeus di jalan dago. Awalnya, dokter hanya bilang untuk istirahat dan datang satu hari kemudian untuk mengecek jumlah trombosit saya. Trombosit saya hari itu  masih normal tapi menunjukkan arah menuju demam berdarah.

Besoknya, saya datang lagi ke laboratorium Rumah Sakit Borromeus dengan tujuan untuk mengecek jumlah trombosit saya. Ternyata jumlahnya berkurang sebanyak 30 000 tetapi masih diatas normal. Akhirnya, saya disarankan untuk opname.

Dalam opname saya, saya ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam. Karena menurut saya, sakit memang mahal dan sehat itu murah. Demi kesehatan, tak apa apa lah mahal sedikit. Dokter tidak secara eksplisit mengatakan saya terkena demam berdarah atau penyakit lain. Menurut suster, semua tanda-tanda saya berada pada daerah abu-abu. Saya bahkan disuruh screening ke bagian radiologi. Saya terheran-heran kenapa kalau sakit demam berdarah harus di screening. Saat itu saya mencatat gejala-gejala yang saya alami adalah batuk berdahak bercampur darah, panas tinggi 39 -40 derajat selama empat hari, keringat malam.

Suatu hari dokternya datang dan dengan tenang dia mengatakan bahwa saya terkena TB.

     “Apa, dok? DB , yah? “

memang saya mendengar huruf T menjadi D waktu itu.

     “Engga. TB. TBC. Tuberkulosis”

Waktu itu merupakan waktu yang terlama buat saya untuk mencerna kata-kata itu. Ibu saya di samping terkejut dan terheran-heran dengan vonis dokter. Ibu saya masih berargumen bahwa saya dulu di vaksinasi BCG. Dokter tetap dengan keputusannya – yang menurut saya waktu itu dia masih ragu- mengatakan bahwa saya terkena TB. Saya akan menjalani beberapa tes lagi untuk memastikannya. Beberapa tes tersebut adalah tes mantoux dan tes sputum(PCR). Tes mantoux akan memberikan hasil positif untuk semua orang yang telah divaksinasi BCG. Jelas, tes mantoux tidak ada gunanya. 

Saya tentu saja masih setengah shock dengan vonis dokter. Akhirnya, saya memutuskan untuk menerima kondisi saya. Tetapi, ibu saya masih bersikeras bahwa saya tidak terkena TBC.

     “Kita kan ga ada garis keturunan terkena TBC.” 

Tapi, menurut informasi yang saya dapat bahwa TB bisa menjalar kepada siapapun tanpa memandang silsilah. Dan ada lagi yang mengatakan bahwa Indonesia sudah tercemar dengan bakteri ini sehingga siapapun yang kondisi tubuhnya lemah bisa terserang penyakit ini. Tapi, lagi-lagi ibu saya tidak percaya. Akhirnya saya menyadari bahwa ketidakpercayaan ibu inilah yang menyelamatkan saya dari bahaya dunia rumah sakit di Indonesia.

Saya cuti dari kuliah. Dengan surat keterangan dari dokter yang mengatakan saya harus istirahat dan alasan bahwa saya dapat mengganggu teman saya dalam proses perkuliahan, saya akhirnya diberi izin cuti. Butuh mingguan untuk mendapatkan jawaban dari pihak Annex (administrasi kampus ITB). Saya akhirnya minta izin kepada dokter di Bandung tersebut untuk berobat di medan saja. Sebenarnya alasan saya adalah untuk berobat ke penang.

Kenapa penang? penang memiliki fasilitas rumah sakit yang cukup modern. Hasil diagnosa dari dokternya sangat reliable. Dokternya sangat friendly. Transportasi dari Medan ke Penang juga sangat murah karena ada kebijakan bebas fiskal dari pemprov Sumatera Utara dengan Malaysia. Cukup 800 ribu sudah bisa pulang balik. 

Modern. Reliable. Friendly. Akurat. Murah Meriah. Anda pasti setuju dengan saya untuk berobat ke penang daripada di Indonesia. 

Dari dua hasil pengecekan saya yang ada terdapat dua hasil yang berbeda. Pertama, saya berobat ke Rumah Sakit Adventist. Ternyata disana tidak ada bagian khusus respiratory. Akhirnya saya memilih untuk berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. Dari hasil screening ke dua kali – karena saya tidak membawa data hasil screening – dia mengatakan bahwa dia tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa saya terkena TB atau tidak. Karena paru-paru saya sangat normal. Dan kalaupun ada, tidak akan sembuh dan bersih dalam jangka waktu sesingkat itu. 

Ini menyebabkan ibu saya semakin yakin bahwa saya tidak terkena penyakit TB. Ibu menyarankan untuk tidak usah memeriksa lagi. Saya kan penganut prinsip usut sampai tuntas. Akhirnya saya bertengkar dengan ibu mengenai ini. Kita berdua melaluinya dengan berat. Saya juga tak ingin divonis penyakit ini, tapi apa dengan perkiraan dokter yang tidak memberikan kepastian dapat memberikan kepastian pada keraguan di hati ini.

Akhirnya saya berkunjung lagi ke rumah sakit yang lain. Rumah Sakit Lam Wah Ee Hospital. Saya sangat menyarankan kepada Anda untuk berkunjung disini. Saya sangat puas dengan pelayanannya. Sepuluh kali lipat dari semua rumah sakit yang pernah saya kunjungi. Kebetulan disana ada bagian Respiratory. Nama dokternya Ronny Cheung. Apa yang dia bilang sangat mengejutkan. Dia bilang semua hasil PCR(sputum test), radiology, mantoux sangat tidak akurat. PCR hanya akurat untuk hasil negatif. Akhirnya saya di CTscan -akhirnya saya tahu dari satu simposium di medan bahwa ini adalah metode terbaru yang belum diimplementasikan di indonesia- yang memberikan keakuratan 95 %. 

Dan akhirnya..

Tolong sekarang biola dimainkan, drum dipukul, latar musik dimulai,

I’M NEGATIVE

Yah. Sesaat aku merasa muak dengan uang sebesar sepuluh juta yang sudah saya keluarkan di Rumah Sakit Borromeus atas hasil yang salah. Saya merasa bersyukur atas perjuangan ibu saya yang meyakinkan saya tidak terkena penyakit tersebut. Saya berterima kasih atas anugerah dari Tuhan karena hasil negatif ini.

Buat Anda yang terkena vonis TB dari dokter di Indonesia, saran saya

  • Bersikaplah kritis terhadap vonis dokter.
    Tanyakan mengapa hal tersebut terjadi. Tanyakan dari mana dokter mendapatkan kesimpulan seperti itu. Tanyakan berapa persen kepastian dari hasil test yang dilakukan.
  • Lakukan CT scan. 
    Kebanyakan dokter hanya akan melakukan test radiologi biasa dan melakukan test mantoux. Namun test mantoux merupakan hasil yang paling tidak akurat. Mintalah melakukan CTscan. Apabila dokternya mengatakan dia tidak mengetahui cara pendiagnosaan melalui CT scan, carilah dokter yang dapat melakukannya. Saya sendiri menyarankan Anda ke Rumah Sakit Lam Wah Ee di Penang, Malaysia. Cukup Murah kok! Lagipula CT scan memberikan keakuratan 95 persen. Tapi PCR sudah merupakan test yang cukup akurat apabila hasilnya negatif.

  • Mintalah teman terdekat dan keluarga untuk melakukan screening. 
    Walaupun Anda belum pasti terkena, segeralah minta teman dan saudara Anda untuk melakukan screening. Lebih cepat terdeteksi, lebih cepat penyembuhannya.

  • TBC bukanlah penyakit yang eksotis
    TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan asal makan teratur obat nya selama 6 bulan. Konsultasikanlah dengan dokter Anda untuk  mengecek fungsi liver Anda. Obat TB dapat berpengaruh terhadap liver. Mintalah obat yang mengandung vitamin B12.

  • Berdoa
    Sepanjang berdoa itu gratis dan siapapun boleh berdoa kenapa tidak? Bersyukurlah Tuhan tidak meminta bayaran untuk setiap permintaan kita.

Nah, semoga pengalaman saya dapat berguna buat teman-teman. Jangan terlalu cepat percaya yah mah diagnosa dokter di Rumah Sakit B di Bandung. Good Luck!

7 comments

  1. ihihihihi68x
    koq bisa sampai begitu sih, kak?
    btw, yakin kalau si dokter yg terakhir itu udah bener? jangan2 salah lagi…
    hihihi68x

    (pembelajaran dari sini, makin banyak sarjana kedokteran yang ga kompatibel. wah, gawat juga ini!)


  2. yakin.. menurut dari simposium dari WHO kemaren di medan this is the state-of art diagnosis system… dan sekarang lagi sehat2 aja… malah saya sekarang tenis 5 jam seminggu..


  3. Waktu ujian sinsis, (berarti sekitar dua bulan setelah kita masuk semester baru Bet…) gua sakit kepala plus demam ampe parah banget. Dari sakit kepala lari ke perut trus batuk-batuk ga jelas (ada darahnya juga). Usust punya usut gejalanya sama dengan adikku beberapa sebelumnya. Setelah dua minggu, gua sembuh. Seminggu sebelum gua sembuh, nyokap malah ikut sakit. Sama lagi! (cuma ga sampe ke batuk darah, ternyata batuk darah gue karena batuknya terlalu semangat hihihi).

    Setelah sebulan, baru nyokap bener-bener sembuh.

    Diagnosa dokter?

    Tidak ada…

    (Haduh, bagaimana ini Pak dokter hihihi)


  4. hehehe, untungnya sehat bert..
    horeeee..


  5. kalau bagian gastroenterology ada g?
    papa saya hasil CT SCAN nya dari RS di medan,ada tumor di cardiac lambung nya..jadi keluarga bermaksud agar papa diterapi di penang saja..
    kira-kira LAM WAH EE ada g y?
    thx b4..


  6. Halo mas..
    saya septa dari medan, ibu dan abang saya bakal berangkat minggu depan ke Penang buat berobat, tujuannya RS Lam Wah Ee jg, krn melihat anak tetangga yang kasusnya sama dengan mas, dinyatakan +TBC di medan, ternyata syaraf tulang belakang yg terjepit.
    Kasus ibu saya sebenanrnya (kemungkinan) osteoporosis atau rematik krn kesakitan terus kakinya, tapi saya takut dia harus makan obat terus ternyata salah diagnosa.
    Kira-kira mas habis berapa ya berobat disana dan berapa lama, kalau kesana berangkat langsung atau sudah ada yang menjemput di Penang, saya takut ibu dan abang saya bakalan kesulitan disana..mohon keterangan atau ceritanya ya..terima kasih banyak.
    Septa, Medan


  7. Halo, thanks untuk sharing pengalamannya berobat di penang, saya mau numpang tanya karena kemungkinan besar orang tua akan berobat ke penang. Saya khawatir karena orang tua sudah cukup umur dan tidak ada anak yang bisa menemani ke penang. Boleh saya tanya tentang penginapan di penang, harus bikin janti ke RS dulu, apakah ada tour agency di jakarta dan sekitarnya yang biasa mengatur ‘medical tour’ ke penang ini?? terima kasih sebelumnya



Leave a Comment