Archive for May, 2008

h1

Pantaskah?

May 31, 2008

Menarik untuk melihat bahwa terjadi gelombang demonstrasi yang besar dari mahasiswa mengenai kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Mendengar ini, saya langsung terbayang stigma akan mahasiswa yang menjadi aktivis. Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Salah satu wujud dari kemahasiswaan itu mungkin berupa demonstrasi ke jalan menyuarakan pendapat. 

Beberapa hari yang lalu saya chatting dengan teman saya mengenai kejadian di Unas. Kita berbicara banyak mengenai kejadian tersebut.

     “Haha, Lo gak ikut turun ke jalan?”

tapi, saya mendapat jawaban yang sangat mengejutkan.

     “Engga, ah! Mereka yang turun ke jalan meneriakkan anti-korupsi aja masih korupsi.”

     “Haha, maksudnya?”

     “Yah, mereka aja masih nitip absen, nyontek tugas, apa pantas nyuarakan anti-korupsi?”

Saya hanya tertawa dalam hati saya. Menarik sekali pendapat teman saya ini. Saya hanya teringat akan sebuah quote yang dipublikasikan di  Seven Habits of Highly Effective Teens.

Ketika aku masih muda serta bebas berfikir dengan khayalan,
aku bermimpi untuk mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita-cita itupun agak kupersempit,
dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
Namun tampaknya itupun tiada hasilnya.

Ketika usia senja mulai kujelang,
lewat upaya terakhir yang penuh keputus asaan,
kuputuskan untuk mengubah hanya keluargaku, yaitu
orang-orang yang paling dekat denganku.
Namun alangkah terkejutnya aku,
ternyata mereka pun tak kunjung berubah !!!

Dan kini,
sementara berbaring di tempat tidur, menjelang
kematianku, baru kusadari:
“Andaikan yang pertama-tama kuubah dulu adalah diriku sendiri,
maka lewat memberi contoh sebagai seorang panutan,
mungkin keluargaku bisa kuubah,

dan berkat inspirasi dan dorongan mereka,
kemudian aku menjadi mampu memperbaiki negeriku, dan siapa tahu,

bahkan aku juga bisa mengubah dunia!”

Cobalah dulu untuk tidak menyontek tugas teman, menitip absen, cabut kuliah, :) itu kan merupakan contoh dari korupsi. Cobalah ubah diri sendiri terlebih dahulu sebelum kita berteriak atas nama kepentingan rakyat. Cobalah ubah keluarga kita terlebih dahulu. Setelah itu, mulai lah dari komunitas Anda. Sampai saat itu, tidak telat buat Anda untuk mengubah dunia.

 

h1

Public Space(2)

May 29, 2008

Saya senang sekali ketika menonton Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull. Pertama, karena saya memang penggemar film dari Steven Spielberg. Konon katanya, Steven Spielberg pernah mengajukan tawaran menjadi sutradara James Bond, tetapi ditolak. Akhirnya, Steven Spielberg membuat filem Indiana Jones yang sangat digemari masyarakat hingga sekarang. Setidaknya, penuhnya penonton di bioskop menjadi pertanda bahwa film ini memang sangat digemari. Apalagi, pemain utamanya Harrison Ford yang mampu membuat mata sejumlah wanita tak bosa memandang wajah yang adventrous dan jantan itu.

Bukan hanya itu, itu juga merupakan kencan pertama saya dengan pacar setelah sekian lama tak berjumpa. Saya menjalani long-distance relationship sejak saya cuti. Jadi kencan pertama ini sangat berarti buat saya. Kita menumpahkan rasa kangen yang dipendam selama dua bulan itu.

Ada yin ada yang. Yah, walaupun saya sangat senang, ada aja hal-hal yang membuat saya jengkel. 

Saya dapat seat dengan pacar di tengah-tengah. Saya sih pengen seat angka tiga belas karena itu merupakan favourite seat kita. Karena kita jadian tanggal tiga belas. hi hi hi. Jadi semacam luck charm buat kita berdua. Kebetulan samping kiri saya dan samping kanan saya merupakan pasangan juga. Pacar sih kayaknya.

Ketika film menunjukkan adegan-adegan air terjun dengan sebuah boat, tiba-tiba sebelah saya menjerit kegirangan.

      Wah, wah, wah lihat itu!!

Semua orang sangat kaget dengan reaksi dia. Karena semua orang yang seru menonton adegan tersebut. Tepatnya, kita semua merasa sedikit terganggu dengan komentar berlebihan itu.

     Wah, keren mereka terjun… Waaaaaaahhhh…

Kesan kedua, katro. Buset deh semua bagian di adegan film tersebut dikomentari. 

     Kok dia bisa tahu, yah? Hebat banget…

Suaranya sangat mengganggu satu barisan tersebut. Dan, saya sangat terkejut sekali ketika mendengar mobile nya berdering. Astaga, bukankah di awal dari masuk bioskop sudah disarankan menutup perangkat mobile agar tidak mengganggu sekitar. 

     Haloo…

Astaga, kesan kedua : super katro. Dia menjawab telefonnya dengan suara yang sangat keras, seolah-olah lagi di kamarnya sendiri.

     Iya, ini lagi nonton Indiana Jones. Seru dehh! 

Saya tak ingat lagi dia bilang apa. Pastinya, dia terus mengoceh-ngoceh bersama lawan telefonnya itu. Saya melihat ada beberapa orang yang melotot dia. Termasuk pacar saya. 

Ini lagi-lagi merupakan contoh bahwa seseorang tidak memiliki etika di ruang publik. Di bioskop seperti itu, Anda tentu ingin menyaksikan film Anda dengan tenang bersama orang yang Anda sayangi -aneh kan ke bioskop sendiri-. 

Kalau Anda ingin berteriak seperti itu, silahkan aja sewa DVD sendiri. Anda bisa nonton sepuas Anda. Berteriak sepuas Anda. Menjawab telefon sesuka Anda. Atau, Anda boleh membeli label sendiri seperti 21 dan Blitzmegaplex sehingga Anda membuat bioskop khusus untuk Anda sendiri.

Akhirnya, kencan indah saya ternoda juga. Please deh ah.. Jangan katro..

h1

Public Space

May 29, 2008

Kemarin, harusnya menjadi hari yang indah buat saya. Akhirnya, setelah beberapa bulan saya tidak bertemu dengan pacar saya, saya bisa ketemu dengan dia. Wuihh… senangnya …. Ya, iyalah sudah dua bulan kita engga bertemu. Sejak saya cuti itu loh. Namun, keindahan itu harus terusik dengan ketidaknyamanan ketika saya pulang.

Ketika jam 17.00 WIB, mobile phone saya berbunyi. Ternyata dari Mama.

     “Bert, kamu udah pesan travel, belum?”

Mama menanyakan perihal kepulangan saya dari Medan ke Siantar. Perjalanan pulang dari Medan ke Siantar memakan waktu kira-kira tiga jam. Plus antar jemput penumpang yang lain, jadilah sekitar tiga setengah jam. 

     “Belum, Ma. Kalau Asin pasti paling telat jam enam, Ma. Nanti Albert pesan yang Paradep aja.”

Paradep dan Asin merupakan sejenis travel untuk Medan Siantar. Yah, sejenis travel seperti CityTrans atau Cipaganti. Bedanya mungkin Paradep lebih kelihatan formal dan Asin lebih kelihatan informal travel car.

     “Oh! Yah sudah. Mama mau tidur dulu. Mau mastiin aja kamu dah dapat travel.”

Akhirnya saya memesan Paradep untuk jam tujuh malam. Karena saya baru saja selesai makan sekitar jam enam malam di Fountain di Sun Plaza Medan. Jadi, masih ada sekitar waktu satu jam untuk makan dan berpacaran, bercumbu, bercinta. He he he.

Saya sampai di travel pukul tujuh lewat sepuluh menit. Saya duduk di paling belakang, pojok kanan. Sudut mati. Dead end. Saya membuka ipod saya dan mulai memutar lagu Always Be My Baby nya David Cook. Lagu yang memutar lagi kenangan saya dengan pacar tadi siang.

Tak disangka, ternyata sebelah saya adalah bapak-bapak berbadan besar. Akhirnya, saya harus lebih merelakan porsi duduk saya untuk si bapak. Belum lagi bau keringat dia yang sangat menyengat yang membuat hidung saya ngos-ngosan untuk mencium bau seperti telor busuk (maaf, pak! emang kenyataan.) bercampur dengan tengik. Beuuhhh!

Si bapak akhirnya mengeluarkan sesuatu yang sangat saya tidak duga. Rokok. Dia mulai memantik mancisnya dan membakar ujung dari rokoknya. Asap rokok pun perlahan muncul dari ujung rokoknya yang membentuk huruf ‘S’. Bayangkan, ditambah dengan bauk telor busuk plus tengik, Anda pasti akan langsung merasa sangat tidak nyaman berada disamping Bapak itu.

Di luar dugaan saya, ternyata bapak disebelahnya juga memantik rokok. Akhirnya bercampurlah asap-asap rokok dalam mobil. Kebetulan saya merupakan orang yang sangat sensitif dengan bau rokok. Setelah mencium asap rokok, pasti hidung saya tersumbat. Saya sangat merasa sangat tersiksa ketika itu.

     Cause you always be my baby.

Lagu yang terputar di ipod saya tak cocok dengan suasana di mobil. Samar-samar saya malah mendengar David Cook menjadi seorang penyanyi dengan logat Indonesia. 

     Kas yu olweis bi mai babi.

Lagi-lagi supirnya juga menyalakan rokok. Dengan rokok tertancap di mulut dengan gigi kuningnya, dia membawa mobil dengan gila. Mendahului lewat jalur kiri. Astaga. Waktu pukul setengah delapan malam. Langsung terbersit dalam pikiran saya apabila mobil ini mengalami kecelakaan. 

     Eh, gw blom kawin bo. Jangan mati dulu.

Muka saya sangat masam waktu itu. Bapak-bapak sekalian tidak memikirkan di barisan depan terdapat seorang ibu dan bayi.Penelitian yang dipublikasikan di kompas.com mengatakan bahwa pengaruh asap rokok terhadap anak-anak sangat buruk. Setengah dari anak-anak menjadi pelanggan rumah sakit karena asap rokok.

Asap dari rokok berterbangan seiisi mobil. Saya pun akhirnya terbatuk-batuk.

     Ohok! Ohok!

Sekali-dua kali tak di gubris.

     Ohok! Ohok!

Lagi-lagi tak digubris.

      Ohok! Ohok!

Saya sengaja tidak melihat mereka. Muak dengan orang yang tidak memperdulikan kesehatan orang sekitar. Mereka merupakan orang-orang yang egois. Mereka hanya peduli dengan kesenangan sendiri tanpa melihat orang disekitar menjadi terancam karena kesenangan dia. Siapapun di dunia ini tak pernah membenarkan kesenangan seseorang yang merugikan orang banyak.

Akhirnya, asap rokok tak muncul lagi. Mereka berdua tertidur. Syukurlah. Tapi, saya lagi-lagi harus menderita. Si bapak disebelah saya dengan bau tadi, ternyata tidur dengan meletakkan kedua palm nya di belakang kepala. Akhirnya, ketiak yang basah – bahkan dia sudah memakai singlet- memunculkan bau yang sangat tidak enak buat saya.

     Beri cinta waktu. Kau menjauh, menangis hatiku.

Lagi-lagi lagunya Maliq and d’Essential tidak cocok dengan suasana. Alunan lagu-lagu jazz dengan live instrument tersebut sangat tidak pas. Saya harus menahan bau tersebut hingga pulang ke siantar. 

Saya sangat menyayangkan masyarakat yang tidak mengerti etika di tempat umum. Mobil itu didalam nya terdiri atas sejumlah penumpang. Mobil tersebut menjadi ruang publik. Ruang dimana berkumpulnya beragam manusia. Segala sesuatu yang akan kita lakukan di ruang publik harus mendapat consideration apakah hal tersebut akan mengganggu publik. Bapak diatas adalah contoh yang tidak mengerti mengenai etika di ruang publik.

Saya yakin, pada saat itu bukan hanya saya yang merasa terganggu. Ibu didepan juga pasti akan merasa geram dengan sikap bapak-bapak di belakang yang egois tersebut.

Beruntunglah sekarang di DPR akan membahas mengenai UU anti rokok. Semoga apa yang dibahas oleh bapak-bapak di Senayan mencakup pelarangan merokok di ruang publik.

 

 

h1

Neu gadget

May 23, 2008

Yes! Hari ini saya baru membeli sebuah ipod. Ya, ipod touch 8 Giga (pengennya sih 32 giga, tapi gak sanggup bo ! ). Tetapi, banyak yang bertanya kenapa tidak sekalian aja iPhone. Well, di Indonesia iPhone masih harus di unlock. Jadi, tidak ada garansi. Bayangkan smartphone sekitar 5,7 juta rupiah dan besoknya Anda menemukan iPhone Anda rusak! Wah… 

Ditambah dengan Nokia E51 yang bisa HSDPA, lengkaplah gadget saya. Mungkin tinggal kurang satu digital camera deh. He he he. Biar lebih sempurna.

h1

Brain programming

May 22, 2008

Hari kamis adalah hari saya untuk main tennis. Memang, baru beberapa minggu terakhir saya mulai bermain tenis. He he he. Saya pikir daripada tidak melakukan apa-apa di rumah, lebih baik saya mencari kegiatan olah raga. Baik buat tubuh kan? Siapa yang berani bilang olah raga tidak baik buat kesehatan?

Saya biasanya tennis jam 4. Berangkat dengan motor dan tiba pada saat yang tepat. Saya bergegas mencari pelatih tennis. Karena saya masih pemula, saya harus banyak mendapat masukan dari yang ahli, kan? Sekilas melihat tidak ada.

      “Ah! mungkin sebentar lagi dia datang.”

Tunggu lima belas menit, dia tidak datang-datang juga. Sedikit panik. Merasa bosan. Mulai grasak-grusuk. Garuk-garuk kepala. 

     “Sabar, Bert! Bentar lagi juga datang kok. Setiap orang kan bisa telat.”

Tunggu setengah jam, dia lagi-lagi belum datang. Panik beneran. Sangat bosan. Gelisah. Cakar-cakar kepala.

     “Huh! Mana nih pelatih?”

Akhirnya daripada saya bosan, saya sms saja pacar saya. Ngobrol-ngobrol tentang tadi ujian makroekonomi nya dia. Bicara tentang dia lihat nilai matakuliah komputernya. Bicara anak autis yang membuat kericuhan disebelah. Bicara tentang bapak-bapak main tennis dengan logat Batak yang kental (sampai pacar saya yang orang Batak aja kesel he he he). 

     “Yank, pelatihnya blum datang donk! Bete!”

Pacar saya pun berusaha membantu saya agar saya tidak merasa bosan sendiri di lapangan tennis itu.

     “Kenapa gak hp pelatihnya aja, yank?”

Saya berpikir sejenak. Ternyata saya tidak memiliki nomor hape dari pelatihnya.

     “Ah.. Aku gak tahu nomor hapenya, yank!”

     “Loh, kenapa gak nanya nomor hapenya, yank?”

     “Males, ah! Nanti dia sering telepon aku supaya dia bolos ngelatih, yank!”

     “Kalo begini kan dia gak bisa ngebatalin waktu latihan, cinta! he he he”

Pacar saya pun bingung. Setelah saya pikir-pikir harusnya pola pikir saya tidak begitu. Kalau tidak mengetahui nomor hapenya, akibatnya saya yang ga bisa hubungi dia. Saya yang rugi harusnya. 

Saya baru-baru ini membaca buku science of succes karya dari James Arthur Ray. Disitu dikatakan mengenai kekuatan pola pikir. Kita harus sering-sering mengevaluasi pola pikir kita. Karena pola pikir yang bersifat negatif dapat menghambat kita untuk mencapai sukses yang kita inginkan.

Kemampuan manusia untuk menyadari pola pikirnya sendiri merupakan bagian dari kecerdasan intrapersonal seseorang. 

Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan pemahaman akan paradigma, prefersensi, dan praduga dari pikiran kita

Pikiran manusia pada dasarnya terdiri atas tiga bagian penting (sebenarnya ada empat tapi yang keempat tidak begitu relevan disini) yaitu pikiran sadar, pikiran analitis, pikiran bawah sadar. Ketiga pikiran ini bekerja sama mengolah dan menyimpan data sama seperti komputer. Tepatnya, arsitektur komputer meniru cara kerja otak dalam memproses data.

Pikiran sadar adalah pikiran dimana kita mengambil alih. Pikiran sadar juga tempat kita melakukan pertimbangan-pertimbangan rasional mengenai keputusan yang akan kita ambil.

Pikiran analitis adalah tempat paradigma, preferensi, praduga untuk menyaring informasi.

Pikiran bawah sadar adalah pikiran yang mengatur detak jantung kita, aliran darah, semua proses fisiologi dalam tubuh kita.

Nah, ternyata pikiran bawah sadar juga merupakan tempat memori jangka panjang otak kita. Sifatnya sama seperti harddisk. Begitu informasi sampai kepada pikiran bawah sadar, pikiran bawah sadar akan langsung menyimpannya. Pikiran bawah sadar tidak akan memprotes Anda bahwa yang disimpan bertentangan dengan nilai-nilai (values) Anda. Pikiran tidak akan mengatakan bahwa itu tidak sesuai dengan Pancasila, UUD’45, Magna Charter, dll. Sama seperti harddisk komputer yang akan men-save apapun yang Anda perintahkan. 

Tugas untuk menyaring informasi terletak pada pikiran Analitis. Karena disitu semua informasi akan disaring melalui tiga lapisan paradigma, preferensi, praduga. Tanpa Anda sadari, pikiran analitis bisa memasukkan informasi ke pikiran bawah sadar Anda. Pikiran analitis Anda seperti bersaing dengan pikiran sadar Anda. Ada sejenis operating system yang mengatur proses kedua pikiran tersebut. 

The Good News is Anda dapat memprogram pikiran analitis Anda. Anda juga dapat memasukkan informasi kedalam pikiran bawah sadar Anda. Salah satu contoh yang konkrit adalah ketika saya tidur di malam hari. Sebelum saya tidur saya akan mengatakan pada diri saya sendiri untuk bangun jam 6 pagi. Saya libatkan emosi saya, saya merasakan seolah-olah otak saya memasukkan kedalam pikiran bawah sadar saya. Ternyata, seperti yang Anda duga, saya bangun jam 6 tanpa alarm. It’s biological clock inside your body.

Nah, penelitian menunjukkan bahwa dibutuhkan afirmasi konsisten selama 21 hari untuk membentuk pola pikir yang baru (memprogram pikiran analitis Anda). Afirmasi tersebut harus dilakukan setiap hari. Afirmasi tersebut merupakan pola pikir yang Anda inginkan. 

Tetapi,

Ada suatu sifat unik dari pikiran ketika afirmasi tersebut Anda katakan kepada diri Anda sendiri. Pikiran tidak dapat memproses kata “tidak”. Jadi ketika afirmasi positif Anda adalah

     “Saya tidak akan merokok” 

yang terjadi adalah semua kata akan diproses oleh otak, kecuali kata tidak. Jadi yang diterima otak adalah

     “Saya akan merokok”

Saya sendiri pernah mengalami hal ini. Ketika ada yang mengatakan kepada saya untuk JANGAN membuka folder ini, yang terpikirkan oleh saya justru ingin membuka folder itu. Akibatnya, komputer saya terkena virus =).

Oh yah, ada lagi satu hal. Dalam afirmasi selama dua puluh satu hari tersebut, awalnya Anda akan cukup menerima afirmasi tersebut. Lama-kelamaan, Anda mulai menyadari bahwa Anda sedang membohongi diri Anda sendiri. Bahwa afirmasi tersebut hanyalah impian belaka. Hal tersebut memang lumrah terjadi. Itu adalah fase yang harus dilalui. Ketika Anda terus memberikan afirmasi kepada pikiran Anda sampai dua puluh satu hari, Anda akan benar-benar menanamkan pola pikir tersebut dalam pikiran analitis dan bawah sadar Anda.

Kesimpulannya, Anda bisa menjadi seperti apapun yang Anda mau. It’s just simple as it is. 

Oh yah, kemaren saya menonton Oprah Show with Dr. Oz. Salah satu kata dokter Oz adalah bahwa kebiasaan dapat dibentuk dalam tiga minggu. Nah, kiranya ini sesuai dengan penjelasan diatas.

Jadi, saya bisa mengubah pola pikir aneh saya diatas tentang pelatih tenis saya. Tapi, tampaknya tidak butuh dua puluh satu hari untuk mengubahnya. =)

Selamat mencoba!

 

 

h1

Currently me

May 21, 2008

Wah… banyak teman saya yang menanyakan keberadaan saya sekarang ini. Yah, memang saya sudah lama tak datang ke kampus. Saya sekarang sedang menjalani masa cuti kesehatan (ternyata gampang kok minta surat cuti di kampus he he he). Ada alasan kenapa saya cuti. Baiklah, semoga pengalaman saya ini berguna buat teman-teman. 

Bulan dua kemaren, saya merasa bahwa kondisi tubuh saya sangat lemah. Baca tak konsen, dengar mengantuk, simak tak masuk otak, badan lemas terus. Akhirnya saya berobat ke Rumah Sakit Borromeus di jalan dago. Awalnya, dokter hanya bilang untuk istirahat dan datang satu hari kemudian untuk mengecek jumlah trombosit saya. Trombosit saya hari itu  masih normal tapi menunjukkan arah menuju demam berdarah.

Besoknya, saya datang lagi ke laboratorium Rumah Sakit Borromeus dengan tujuan untuk mengecek jumlah trombosit saya. Ternyata jumlahnya berkurang sebanyak 30 000 tetapi masih diatas normal. Akhirnya, saya disarankan untuk opname.

Dalam opname saya, saya ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam. Karena menurut saya, sakit memang mahal dan sehat itu murah. Demi kesehatan, tak apa apa lah mahal sedikit. Dokter tidak secara eksplisit mengatakan saya terkena demam berdarah atau penyakit lain. Menurut suster, semua tanda-tanda saya berada pada daerah abu-abu. Saya bahkan disuruh screening ke bagian radiologi. Saya terheran-heran kenapa kalau sakit demam berdarah harus di screening. Saat itu saya mencatat gejala-gejala yang saya alami adalah batuk berdahak bercampur darah, panas tinggi 39 -40 derajat selama empat hari, keringat malam.

Suatu hari dokternya datang dan dengan tenang dia mengatakan bahwa saya terkena TB.

     “Apa, dok? DB , yah? “

memang saya mendengar huruf T menjadi D waktu itu.

     “Engga. TB. TBC. Tuberkulosis”

Waktu itu merupakan waktu yang terlama buat saya untuk mencerna kata-kata itu. Ibu saya di samping terkejut dan terheran-heran dengan vonis dokter. Ibu saya masih berargumen bahwa saya dulu di vaksinasi BCG. Dokter tetap dengan keputusannya – yang menurut saya waktu itu dia masih ragu- mengatakan bahwa saya terkena TB. Saya akan menjalani beberapa tes lagi untuk memastikannya. Beberapa tes tersebut adalah tes mantoux dan tes sputum(PCR). Tes mantoux akan memberikan hasil positif untuk semua orang yang telah divaksinasi BCG. Jelas, tes mantoux tidak ada gunanya. 

Saya tentu saja masih setengah shock dengan vonis dokter. Akhirnya, saya memutuskan untuk menerima kondisi saya. Tetapi, ibu saya masih bersikeras bahwa saya tidak terkena TBC.

     “Kita kan ga ada garis keturunan terkena TBC.” 

Tapi, menurut informasi yang saya dapat bahwa TB bisa menjalar kepada siapapun tanpa memandang silsilah. Dan ada lagi yang mengatakan bahwa Indonesia sudah tercemar dengan bakteri ini sehingga siapapun yang kondisi tubuhnya lemah bisa terserang penyakit ini. Tapi, lagi-lagi ibu saya tidak percaya. Akhirnya saya menyadari bahwa ketidakpercayaan ibu inilah yang menyelamatkan saya dari bahaya dunia rumah sakit di Indonesia.

Saya cuti dari kuliah. Dengan surat keterangan dari dokter yang mengatakan saya harus istirahat dan alasan bahwa saya dapat mengganggu teman saya dalam proses perkuliahan, saya akhirnya diberi izin cuti. Butuh mingguan untuk mendapatkan jawaban dari pihak Annex (administrasi kampus ITB). Saya akhirnya minta izin kepada dokter di Bandung tersebut untuk berobat di medan saja. Sebenarnya alasan saya adalah untuk berobat ke penang.

Kenapa penang? penang memiliki fasilitas rumah sakit yang cukup modern. Hasil diagnosa dari dokternya sangat reliable. Dokternya sangat friendly. Transportasi dari Medan ke Penang juga sangat murah karena ada kebijakan bebas fiskal dari pemprov Sumatera Utara dengan Malaysia. Cukup 800 ribu sudah bisa pulang balik. 

Modern. Reliable. Friendly. Akurat. Murah Meriah. Anda pasti setuju dengan saya untuk berobat ke penang daripada di Indonesia. 

Dari dua hasil pengecekan saya yang ada terdapat dua hasil yang berbeda. Pertama, saya berobat ke Rumah Sakit Adventist. Ternyata disana tidak ada bagian khusus respiratory. Akhirnya saya memilih untuk berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. Dari hasil screening ke dua kali – karena saya tidak membawa data hasil screening – dia mengatakan bahwa dia tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa saya terkena TB atau tidak. Karena paru-paru saya sangat normal. Dan kalaupun ada, tidak akan sembuh dan bersih dalam jangka waktu sesingkat itu. 

Ini menyebabkan ibu saya semakin yakin bahwa saya tidak terkena penyakit TB. Ibu menyarankan untuk tidak usah memeriksa lagi. Saya kan penganut prinsip usut sampai tuntas. Akhirnya saya bertengkar dengan ibu mengenai ini. Kita berdua melaluinya dengan berat. Saya juga tak ingin divonis penyakit ini, tapi apa dengan perkiraan dokter yang tidak memberikan kepastian dapat memberikan kepastian pada keraguan di hati ini.

Akhirnya saya berkunjung lagi ke rumah sakit yang lain. Rumah Sakit Lam Wah Ee Hospital. Saya sangat menyarankan kepada Anda untuk berkunjung disini. Saya sangat puas dengan pelayanannya. Sepuluh kali lipat dari semua rumah sakit yang pernah saya kunjungi. Kebetulan disana ada bagian Respiratory. Nama dokternya Ronny Cheung. Apa yang dia bilang sangat mengejutkan. Dia bilang semua hasil PCR(sputum test), radiology, mantoux sangat tidak akurat. PCR hanya akurat untuk hasil negatif. Akhirnya saya di CTscan -akhirnya saya tahu dari satu simposium di medan bahwa ini adalah metode terbaru yang belum diimplementasikan di indonesia- yang memberikan keakuratan 95 %. 

Dan akhirnya..

Tolong sekarang biola dimainkan, drum dipukul, latar musik dimulai,

I’M NEGATIVE

Yah. Sesaat aku merasa muak dengan uang sebesar sepuluh juta yang sudah saya keluarkan di Rumah Sakit Borromeus atas hasil yang salah. Saya merasa bersyukur atas perjuangan ibu saya yang meyakinkan saya tidak terkena penyakit tersebut. Saya berterima kasih atas anugerah dari Tuhan karena hasil negatif ini.

Buat Anda yang terkena vonis TB dari dokter di Indonesia, saran saya

  • Bersikaplah kritis terhadap vonis dokter.
    Tanyakan mengapa hal tersebut terjadi. Tanyakan dari mana dokter mendapatkan kesimpulan seperti itu. Tanyakan berapa persen kepastian dari hasil test yang dilakukan.
  • Lakukan CT scan. 
    Kebanyakan dokter hanya akan melakukan test radiologi biasa dan melakukan test mantoux. Namun test mantoux merupakan hasil yang paling tidak akurat. Mintalah melakukan CTscan. Apabila dokternya mengatakan dia tidak mengetahui cara pendiagnosaan melalui CT scan, carilah dokter yang dapat melakukannya. Saya sendiri menyarankan Anda ke Rumah Sakit Lam Wah Ee di Penang, Malaysia. Cukup Murah kok! Lagipula CT scan memberikan keakuratan 95 persen. Tapi PCR sudah merupakan test yang cukup akurat apabila hasilnya negatif.

  • Mintalah teman terdekat dan keluarga untuk melakukan screening. 
    Walaupun Anda belum pasti terkena, segeralah minta teman dan saudara Anda untuk melakukan screening. Lebih cepat terdeteksi, lebih cepat penyembuhannya.

  • TBC bukanlah penyakit yang eksotis
    TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan asal makan teratur obat nya selama 6 bulan. Konsultasikanlah dengan dokter Anda untuk  mengecek fungsi liver Anda. Obat TB dapat berpengaruh terhadap liver. Mintalah obat yang mengandung vitamin B12.

  • Berdoa
    Sepanjang berdoa itu gratis dan siapapun boleh berdoa kenapa tidak? Bersyukurlah Tuhan tidak meminta bayaran untuk setiap permintaan kita.

Nah, semoga pengalaman saya dapat berguna buat teman-teman. Jangan terlalu cepat percaya yah mah diagnosa dokter di Rumah Sakit B di Bandung. Good Luck!

h1

hallo

May 21, 2008

Hallow.. nah untuk sementara ucapan hangat itu dulu. Ini blog baru saya. Saya masih newbie, yah? Haha… Tak apa! Setiap orang kan punya awal. 

“A mile journey starts with one small step.”

Benar, kan?

Sebenarnya saya sudah memiliki beberapa blogs, tetapi karena jarang diakses dan lupa password akhirnya saya buat yang baru saja.

“Mari membangun bangsa dengan semangat menulis dan budaya membaca.”

hehe… terkesan klise? Memang saya suka membaca kok.